Saturday, October 9, 2010
kisah penjual tempe
Sunday, August 29, 2010
batu kecil

Friday, February 5, 2010
kisah katak
Thursday, January 7, 2010
lukisan kedamaian
Friday, December 18, 2009
Maafkan aku bila mengeluh
Sunday, December 13, 2009
mencari kebahagiaan?

Monday, February 9, 2009
lobak, telur dan kopi
Wednesday, December 24, 2008
cawan yang cantik :)
"lihat cawan itu," kata si nenek kepada suaminya. "kau betul, inilah cangkir tercantik yg pernah aku lihat," ujar datuk.
Ketika mereka mendekati cawan itu, tiba-tiba cangkir yg dimaksudkan berbicara:-
terima kasih untuk perhatian anda, perlu diketahui bahawa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cawan yg dikagumi, aku hanyalah selonggok tanah liat yg tidak berguna. Namun, suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pening. "Stop!Stop!" aku berteriak. tetapi orang itu berkata, “Belum!”. Lalu ia mulai menyodok dan meninju aku berulang-ulang.
"Stop!Stop!" teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi dia memasukkan aku ke dalam api.
"Panas!Panas!" teriakku dengan kuat. 'Stop!Cukup!' teriakku lagi. Tetapi orang ini berkata "Belum". Akhirnya dia mengangkat aku dari api itu dan membiarkan aku sejuk. aku fikir, selesailah penderitaanku.
Oh, ternyata belum. Setelah sejuk aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dia mula mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. "Stop!Stop!", aku berteriak. Wanita itu berkata, "Belum!". lalu dia memberikan aku kepada seorang lelaki dan ida memasukkan aku sekali lagi ke dalam api yang lebih panas daripada sebelumnya. "Tolong, hentikan penyiksaan ini!," sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Dia terus membakarku. setelah puas 'menyiksaku' kini aku dibiarkan sejuk.
Setelah benar benar sejuk, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, kerana di hadapanku berdiri sebuah cawan yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yg lalu menjadi sirna tatkala ku lihat diriku.
Wednesday, November 26, 2008
a story to remember
alhamdulillah, siap sudah marking paper dan semua markah sudah dihantar ke sekolah untuk didatakan..dan saya? mendapat satu pengalaman baru.. :D
semalam, sedang saya asyik membelek buletin sekolah yang pernah dikumpul dahulu, terjumpa satu cerita.. mungkin anda semua pernah membaca cerita ini..tetapi, nak jugak saya selitkan di sini.. semoga bermanfaat.. :)
Muniba, a young Muslim university student, was home for the summer. She had gone to visit some sisters one evening and the time passed quickly as each shared their various experiences of the past years. She ended up staying longer than she had planned. Evening came and Muniba had to walk alone home but she was not afraid because it was a small town and she lived only a few blocks away. As she walked along under the tall elm trees, Muniba asked Allah to keep her safe from harm and danger. When she reached the alley, which was a shortcut to her house, she decided to take it.
However, halfway down the alley she noticed a man standing at the end, as though he was waiting forher. She become uneasy and began to pray, asking for Allah’s protection. Instantly a comforting feel of quietness and security wrapped around her. She felt as someone was waking with her. When she reached the end of the alley, she walked right past the man and arrived home safely.
The following day, she read in the paper that a young girl had been raped in the same alley, just twenty minutes after she had been there. Feeling overwhelmed by this tragedy and the fact that it could have been her, she began to weep. Thanking the Lord for the safety and to help this young girl, she decided to go to the police station. She felt that she could recognize the man, so she told them her story. The police asked her if she would be willing to look at the line up to see if she could identify him. She agreed and immediately pointed out the man she had seen in the alley the night before.
When the man was told he had been identified, he immediately broke down and confessed. The officer thanked Muniba for her bravery and asked if there is anything they could do for her. Se asked if they could asked the man one question. Muniba was curious as to why he had not attacked her. When the policeman asked him, he answered, “Because she was not alone. She had two tall man walking on either side of her.”
so --> NEVER UNDERESTIMATE THE POWER OF PRAYER!
He, who loses money loses much. He, who loses a friend loses more. He, who loses faith loses all. May Allah guide us to the truth and keep us all on the straight path. Ameen..
Saturday, September 20, 2008
The Pencil Maker
Always remember them and never forget, and you will become the best pencil you can be.
ONE: You will be able to do many great things, but only if you allow yourself to be held in Someone's hand.
TWO: You will experience a painful sharpening from time to time, but you'll need it to become a better pencil.
THREE: You will be able to correct any mistakes you might make.
FOUR: The most important part of you will always be what's inside.
FIVE: On every surface you are used on, you must leave your mark.
No matter what the condition, you must continue to write. The pencil understood and promised to remember, and went into the box with purpose in its heart.
Now replacing the place of the pencil with you; always remember them and never forget, and you will become the best person you can be.
ONE: You will be able to do many great things, but only if you place your Trust in Allah.
TWO: You will experience a painful sharpening from time to time, by going through various problems, but you'll need it to become a stronger person.
THREE: You will be able to correct any mistakes you might make.
FOUR: The most important part of you will always be what's on the inside.
FIVE: On every surface you walk through, you must leave your mark.
No matter what the situation, you must continue to do your duties. By understanding and remembering, let us proceed with our life on this earth having a meaningful purpose in our heart ..
Saturday, September 13, 2008
cintanya padaku...
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, kerana sakit yang tidak tertahan lagi.
"Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, kerana sakit yang tidak tertahan lagi.
"Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Monday, August 25, 2008
Nenek pemungut daun

Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaun itu sebelum nenek itu datang. Pada hari itu, nenek tersebut datang dan terus memasuki masjid. Usai solat, dia ingin melakukan pekerjaan rutinnya namun dia terkejut kerana tidak ada satu helai pun daun yang berserakan di halaman masjid. Dia kembali ke masjid dan menangis sambil bertanya mengapa dedaun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang di dalam masjid menjawab, kerana mereka kasihan melihatnya. "Jika kalian kasihan melihatku, berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya,"jawab nenek itu. Dipendekkan cerita, nenek itu dibiarkan mengumpul dedaun yang bertebaran di halaman masjid seperti biasa.
Seorang ulama terhormat diminta untuk menanyakan kepada nenek tersebut mengapa dia begitu bersemangat membersihkan dedaun itu. Nenek itu mahu menjelaskan sebabnya dengan dua syarat; pertama, hanya ulama yang mendengar rahsianya..kedua, rahsia itu tidak boleh disebarkan ketika dia masih hidup. Sekarang nenek tersebut sudah meninggal dunia, dan kita dapat mengetahui rahsia itu.
"Saya ini perempuan bodoh, pak guru," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya mungkin tidak selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kali saya mengutip helaian daun itu, saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi datang menjemput saya. Biarlah semua daun itu menjadi saksi saya berselawat kepadaNya".
Sunday, August 17, 2008
Mimpi dan hirisan roti

Setelah berhari-hari lamanya mereka menyedari bahawa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak makan dan minum bekal tersebut. Kerana tidak berhasil mencapai kesesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membahagi sahaja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, mereka masih tetap tidak sepakat.
Menjelang malam, salah seorang mengusulkan agar tidur sahaja. Sekiranya mereka bangun keesokan harinya, orang yang bermimpi paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. "Inilah mimpiku", kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang yang bijaksana mengatakan kepadaku, "kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan boleh mendapat pujian."
"Aneh sekali," kata yang kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku ku lihat seorang lelaki maha tahu, berkata, "kau berhak akan makanan itu lebih daripada kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia".
Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apa pun, tak berkata apa pun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air, lalu makan di situ juga. Nah, itulah yang ku kerjakan semalam".
Moralnya??.....
Friday, August 15, 2008
..paku di tiang..
Beberapa ketika yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan suruhan agama. Meskipun telah berbuih ajakan dan nasihat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa dan lain-lain amal kebajikan, dia tetap meninggalkannya.
Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi kebiasaannya. Kaki judi, kaki botol dan seribu satu macam jenis kaki lagi menjadi kemegahannya. Suatu hari ikhwah tadi memanggil anaknya dan berkata, ”Mat, kau ni terlalu sangat lalai dan berbuat kejahatan. Mulai hari ini aku akan pacakkan satu tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat kejahatan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini dan setiap kali kau berbuat satu kebaikan, sebatang paku akan ku cabut keluar dari tiang ini”.
Bapanya berbuat sepertimana yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang. Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim ribut tengkujuh berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar lepas. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat dek kerana hujan dan panas.
Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan pandangan mata, timbullah rasa malu dan keinsafan dalam diri Mat kerana selama ini bergelumang dalam dosa dan noda. Maka dia pun berazamlah untuk memperbaiki dirinya.
Mulai detik itu, Mat mula bersembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunat-sunatnya. Lebih banyak lagi paku tercabut.
Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi . Hari demi hari semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggal, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang. Maka ayahnya pun memanggillah anaknya dan berkata, ”Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabutkannya keluar sekarang. Tidakkah kamu gembira?” . Mat merenung pada tiang tersebut, bukan rasa gembira yang dilahirkan sebagaimana yang disangkakan oleh ayahnya tetapi dia mula menangis teresak-esak. ”Kenapa anakku?” Tanya ayahnya,”aku menyangkakan tentunya kau gembira kerana semua paku tadi telah tiada.”
Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, ”Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih kerana parut-parut lubang dari paku itu tetap kekal di tiang, bersama dengan karatnya.”
Sahabat-sahabat yang dimuliakan,
Dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hinggakan menjadi suatu tabiat, kita mungkin boleh mengatasinya, atau secara beransur-ansur menghapuskannya, tapi ingatlah bahawa parut-parutnya akan kekal..
Dari itu, bilamana kita menyedari diri melakukan suatu kemungkaran atau sedang di ambang suatu kebiasaan yang buruk, maka berhentilah dengan serta-merta kerana setiap kali kita bergelumang dalam kemungkaran, maka kita sebenarnya telah membenamkan sebutir paku lagi yang akan meninggalkan parut pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apatah lagi kalau kita biarkan ianya berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak tercabut.
Wallahua’lam…
